Niat Baik

Momen akhir tahun sering digunakan orang untuk merancang berbagai rencana kerja masa depan termasuk rancangan terget-target individu. Seorang teman misalnya dengan mantap bertekad: Tahun depan aku mau jadi orang yang lebih sabar. Nggak emosian. Teman yang lain punya terget lebih “ringan” : Besok aku mau rapihkan koleksi buku pribadiku dan rutin belajar.

Beberapa tahun kemudian saya bertemu lagi dengan mereka yang ternyata masih seperti kondisi semula; yang satu tidak sabaran, suka grasa-grusu, yang lain tak kunjung punya buku dan rajin belajar.

Memiliki sebentuk niat memang merupakan awal yang baik bagi sebuah rencana maupun keinginan. Karena dari niatlah sebuah amalan akan diperhitungkan; apakah termasuk dalam “proyek” amal saleh yng berlandaskan keikhlasan ataukah amal saleh yang sayangnya berbalut keriyaan.

Dua orang yang melakukan satu amal yang sama bisa memiliki perbedaan hitungan disisi Allah tergantung pada niatnya. Dan sungguh, tak ada yang bisa meraba kemana arah satuniat ditujukan, kecuali hanya Allah dan diri sang pelaku sendiri yang tau.

Katakanlah: ” Sekalipun kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menunjukannya, pasti Allah mengetahuinya”. Sesungguhnya Allah mengetahui apa-apa yang ada dilangit dan apa-apa yang ada dibumi. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imran : 29)

Maka merancang sebuah amal dengan landasan niat yang baik dan ikhlas tentulah menjadi keharusan bagi diri kita agar kita kelak dibangkitkan di hari kiamat bersama dengan amal-amal yang disisi Allah memiliki nilai kebaikan dan keikhlasan sesuai dengan niat semula.

Bahkan, begitu berharganya sebuah niat baik, sampai-sampai, sebelum tertunaikan pun dia telah dicatat sebagai sebuah kebaikan, apalagi bila kemudian bisa mewujudkannya. Balasan kebaikannya pun tentulah lebih besar lagi.

Rasulullah Saw berkata: Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejahatan dan menjelaskan keduanya. Barang siapa berniat melakukan sebuah kebaikan namun kemudian tidak melaksanakannya, Allah akan mencatatkan baginya satu (pahala) kebaikan. Bila dia laksanakan (niatnya itu) dicatatlah sepuluh kebaikan dan mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau bahkan lebih. Dan barang siapa berniat berbuat jahat lalu tidak melaksanakan niatnya itu, dicatatlah baginya satu (pahala) kebaikan, dan apabila dilaksanakannya maka dicatatlah baginya satu (catatan) kejahatan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Meski demikian, tentulah kita perlu juga mengukur, apakah segala lintisan pikiran sesaatyang berisi rencana kebaikan dapat dikategorikan sebagai sebuah niat baik? Rasanya bukan demikian. Sebab, lintasan pikiran baru merupakan angan-angan, impian akan sebuah rencana. Dia dapat mengerucut menjadi sebuah niat baik, manakala telah dikukuhkan sepenuh hati dan dilaksanakan hingga menjadi sebuah tekad yang bulat.

Dan bila niat sudah dibulatkan, tentulah tak ada pilihan lain kecuali berproses melaksanakan rencana itu dengan penuh keikhlasan, hingga sang niat mewujud nyata atau Allah membatalkannya lewat berbagai uzur dan kendala. Makanya, tak ada ceritalah seorang mukmin betekad mengumpulkan pahala kebaikan lewat ‘koleksi’ niat baiknya yang ternyata hanya berupa beragam lintasan pikiran sesaat.

Apakah lintasan pikiran sesaat ini akan hilang seiring helaan nafas, ataukah dia mengerucut menjadi niat baik yang dibulatkan menuju amalan nyata, tidak ada yang tahu. Namun, sebagaimana impian yang baru dapat terwujud manakala kita bangun dan berikhtiar, maka niat baik pun baru dapat terukur manakala dia sudah diproses menjadi karya nyata.

Nah, dari sekian banyak lintasan pikiran hari ini, berapa yang telah mewujud menjadi niat baik? Ataukah semua berhenti hanya sampai pada level angan-angan semata? Semoga tidak demikian, semoga Allah memudahkan urusan kita dalam mewujudkan segala niat baik yang telah terekam di dalam hati dan pikiran kita. Aamiiin.

Iklan