Siapa Suka

Hidup diatas ironi-ironi. Siapa yang suka? Ada ironi tentang arti kaya dan miskin. Hasil survey Merrill Lynch dan Capgemini melaporkan, sepertiga dari 55 ribu orang kaya Singapura adalah orang Indonesia. Jumlah mereka mencapai 18 ribu orang dan berstatus permanent resident (warga asing yang mendapat izin tinggal permanen) di Singapura. Lembaga keuangan global itu menaksir nilai aset orang Indonesia disana mencapai Sin$ 87 miliar atau sekitar Rp 506,8 triliun.

Menurut Indonesia Corruption Wacth, dana-dana parkir dari Indonesia yang disimpan di Singapura mayoritas adalah milik para pengemplang utang. Sebelum ini, Forbes juga merilis orang terkaya di Indonesia adalah Sukanto Tanoto, alias Tan Kang Hoo, adalah juga pengemplang utang dengan nilai lebih dari 5 triliun. Bahkan, menurut Direktur Utama Indonesia Asset Watch (IAW), M Donk Ghanie, utangnya mencapai 1,455 miliar dolar AS atau Rp 12 triliun. Pengembalian utang itu akan sangat sulit. Sebab, orang dalam bank, dari bank-bank yang meminjamkan utang itu diduga terlibat. Sungguh tragis.

Bagaimana dengan orang miskin di Indonesia? Jumlahnya diperkirakan menjadi lebih dari 60 juta orang. Ini ironi tentang kemana mencari kekayaan, dan dimana kekayaan itu diumumkan sebagai sebuah simbol kemajuan bangsa. Juga soal bagaimana merampok di Indonesia, lalu mencucinya di luar negeri. Ironi kaya dan miskin di jaman modern ini, semakin memiliki pola, definisi, dan bahkan kosa kata yang sangat rumit.

Hidup dibawah ironi. Siapa mau? Ada ironi tentang demokrasi dan demokrat. Yudi latif, mengatakan, demokrasi sebenarnya sebangun dengan cita-cita ideal yang diinginkan pendiri bangsa ini, mulai dari kemanusiaan, perwakilan, kesejahteraan, dan keadilan sosial. Namun, sangat disayangkan, menurutnya, demokrasi yang berjalan di Indonesia saat ini tanpa demokrat. Maksudnya, tak banyak orang yang benar-benar berjiwa demokrat, benar-benar menjalankan demokrasi. Salah satu akibatnya , tak ada kepastian hukum.

Ada ironi antara advokasi dan advokat. Menurut advokat Kamal Firdaus, visi organisasi advokat saat ini sudah bergeser. Dulu, menurutnya, Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradin) dengan tokohnya seperti Yap Thian Hien, Suardi Tasrif dan Adnan Buyung Nasution, banyak membuat gerakan dan gebrakan yang signifikan terhadap dunia peradilan. Peradi juga banyak bersuara soal ideologi negara hukum yang diperjuangkan. Namun, sekarang setelah rezim otoriter tidak berkuasa lagi, hampir tak ada lagi perjuangan ideologi maupun pemikiran soal negara hukum. Malah, menurutnya, kini lebih banyak menjadi perjuangan mengejar materi. mengedepankan kehidupan yang glamour, jauh dari pembelaan rakyat kecil.

Ada ironi antara kewaspadaan dengan ketidakpercayaan. Dalam banyak hal, bahkan. Seorang pemilik warung di Cirebon memasukan sampah-sampahnya ke kardus. Lalu menutup kardus itu dengan lack ban. Ia tertidur, dan sampah itu diambil orang gila dan diletakkan dipinggir jalan. Saat pemilik warung itu terbangun, sudah ada police line , pasukan gegana, dan kerumunan orang. Bekali-kali pemilik warung itu menjelaskan bahwa itu hanya sampah tapi tak percaya. Sampah pun dibawa kekantor polisi. Setelah benar-benar sampah, pemilik warung itu malah sempat diinterogasi seputar kaitannya dengan teroris.

Ada ironi tentang kecanggihan teknologi buatan manusia. Sebuah penerbangan di Toronto, Amerika, ditunda hampir satu jam. Sebabnya, seorang penumpang tersengat kala jengking. Setelah itu petugas sibuk mencari kala jengking lain. Teknologi dibuat canggih untuk memburu tertuduh teroris, tapi seekor mahluk Allah sekaligus salah satu tentara Allah bernama kala jengking sudah cukup membuat banyak orang kalang kabut.

Kita seringkali hidup diatas ironi-ironi yang kita ciptakan sendiri. Siapa suka?

Iklan